Naluri dibedakan menjadi tiga macam, yaitu naluri mensucikan sesuatu ( naluri tadayun), naluri mempertahankan diri(naluri baqo’), dan naluri melestarikan jenis(naluri nau’).
Naluri tadayun atau mensucikan sesuatu atau mengagungkan sesuatu selalu ada dalam diri setiap orang. Mereka percaya bahwa ada sesuatu yang menguasai dan mengatur dirinya. Ada kekuatan yang jauh lebih besar dibanding kekuatannya. Naluri ini bisa kita lihat dalam sejarah panjang kehidupan manusia. Kalau kita pelajari tentang manusia purba maka kita akan menemui ada kebiasaan mereka menyembah benda yang dianggap memiliki kekuatan (dinamisme) dan ada juga suatu masa yang mereka menyembah ruh (animisme). Intinya manusia percaya pada kekuatan lain di luar dirinya yang lebih dahsyat.
Naluri baqo’ atau mempertahankan diri pada manusia tampak pada keinginan untuk diakui keberadaannya sebagai manusia atau ego. Setiap manusia memiliki ego-nya masing-masing. Status sosial, popularitas, keinginan memiliki apa saja baik yang berupa benda maupun bukan. Juga perasaan marah,tersinggung,takut,waspada..dan lain-lain, yang berhubungan dengan kelangsungan eksistensinya sebagai manusia.
Naluri nau’ atau melestarikan jenis. Nah ini yang berhubungan dengan pertanyaan seorang teman tadi. Bahwa manusia dan makhluk hidup yang lain memiliki naluri untuk melestarikan jenis mereka. Hewan dan tumbuhan juga sama. Memiliki potensi untuk berkembang biak. Manusia pun demikian. Naluri ini tampak sebagai kecenderungan untuk menyukai lawan jenis, menyayangi manusia lain, menyukai anak kecil, merindukan orang tua dan keluarga, dan lain-lain. Naluri inilah yang membuat kita memiliki rasa cinta.
Karakter naluri berbeda dengan kebutuhan fisik. Jika kebutuhan jasmani harus segera dipenuhi bila ada tuntutan pemenuhan, maka naluri sebaliknya. Misalnya naluri baqo’, ingin memiliki sesuatu, atau marah, maka jika tidak segera dipenuhi tidak akan menyebabkan kematian.
Faktor pembangkitnya juga beda, kalau kebutuhan fisik dari dalam diri manusia, tapi naluri dari luar. Misalnya naluri nau’, orang jatuh cinta kepada lawan jenis kan harus ada lawan jenisnya dulu. Harus ada orang lain yang dijatuhi cintanya itu.
Karakter ini berlaku untuk semua jenis naluri. Faktor pembangkit yang memunculkan dari luar diri manusia dan pemenuhannya tidak harus pada saat naluri tersebut muncul.
Jika naluri itu muncul dan menuntut pemenuhan, sementara yang bersangkutan belum dapat memenuhi maka yang timbul adalah kegelisahan saja, dan tidak sampai mengakibatkan kematian.
Faktor luar yang dapat membangkitkan naluri ini dapat dipilah menjadi dua hal yaitu fakta dan pemikiran. Fakta dapat membangkitkan naluri. Misalnya kita melihat hal yang dapat membangkitkan kemarahan, ketakutan, rasa cinta, ingin memiliki suatu benda, dan lain-lain. Demikian juga pemikiran. Memikirkan sesuatu sama dengan menghadirkan fakta ke dalam benak kita. Misalnya saja kita mengingat-ingat hal-hal yang dapat membuat kita marah, takut, cemas, dll, maka naluri itu bisa muncul kembali dan menuntut diperhatikan pemenuhannya.
Dari sini, kita bisa mengendalikan naluri agar tidak bangkit dulu, atau bisa melupakan kejadian traumatis, atau bisa juga untuk bersiasat agar fakta dan pemikiran tentang faktor luar tersebut tidak muncul untuk membangkitkan naluri.
Demikianlah sehingga setiap manusia yang diciptakan di dunia ini mulai dari manusia pertama hingga nanti hari kiamat, semua memiliki kesamaan. Maka tidak aneh jika nabi diturunkan sejak pertama hingga terakhir juga memiliki missi yang sama yaitu mengarahkan manusia pada jalan yang benar.
Demikian juga apa yang diajarkan Rasulullah SAW. beserta risalah yang dibawanya berlaku hingga akhir jaman. Karena pada dasarnya manusia itu sama. Jaman yang berbeda memang membedakan sarana dan bentuk kehidupan. Namun pada hakikatnya sama saja. Di setiap jaman manusia memiliki cara hidup dan peradaban masing-masing. Namun mereka semua sama, berbuat dan bergerak,beraktifitas dalam hidupnya untuk memenuhi panggilan dua jenis potensinya, seperti yang telah diuraikan di atas. Misalnya kendaraan di beberapa ratus tahun yang lalu tentu berbeda dengan kendaraan jaman sekarang, namun sama saja, manusia menggunakannya adalah untuk mempermudah dan mempercepat perjalanannya. Demikian juga bentuk dan sarana kehidupan yang lain. Dari kebutuhan manusia akan tempat tinggal, makanan, pakaian, berinteraksi dengan manusia lain, hakikatnya sama.
Risalah yang datang dari Allah SWT adalah untuk mengatur manusia dalam setiap kegiatan hidupnya. Para Nabi dan Rasul menyampakan bagaimana pemenuhan naluri yang benar, demikian pula bagaimana pemenuhan kebutuhan fisik yang sesuai tuntunan agama. Melalui Nabi dan Rasul, manusia mengenal siapa yang pantas diagungkan, disembah dan diikuti aturannya. Termasuk mengenal bagaimana aturan-aturan bagi manusia sebagai individu maupun bagian dari manusia lain. Misalnya ketika kesel atau marah, musti gimana mengekspresikan kemarahannya, ketika lapar makanan apa aja yang boleh di makan, ketika ingin memiliki sesuatu gimana cara yang dibolehkan untuk mendapatkannya, ketika suka kepada lawan jenis bagaimana dapat tetap menjaga kehormatannya dan sebagainya. Cara paling aman adalah yang sesuai dengan aturan yang benar yaitu yang diajarkan Nabi.
Kecenderungan yang muncul dari naluri maupun kebutuhan fisik adalah alamiah dan itu merupakan karunia Allah. Manusia tidak dihisab untuk kecenderungannya, karena hal itu sudah satu paket dengan disertakannya bagi manusia dua jenis potensi hidup tersebut.
Tidak dosa bagi manusia jika dia punya rasa cinta, marah, benci, takut, lapar, haus, mengantuk, lelah, tersinggung, dll. Namun yang dihisab adalah cara mereka mengekspresikan dan memenuhi semua tuntutan itu. Perbuatan selalu terkait dengan hokum syara’.
Mengenal halal dan haram menjadi sangat penting. Demikian juga mengenal dan mengetahui hukum-hukum serta aturan-aturan yang berkaitan dengan hal itu. Agar selalu sesuai dengan yang diperintahkan.
Background Blog
Jumat, 22 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
RSS Feed


0 komentar:
Posting Komentar